Saturday, February 22, 2020

My Brondong with Me

By. Yuli F Riyadi 

Praaang!!! Klontaaang!!!

Bebunyian alat dapur yang sudah bisa ditebak siapa pelakunya. Ibu Ayuna Sari,  sang ratu dirumah ini. Kebiasaannya kalau habis arisan keluarga. Sasaran kejengkelannya kepada saudara-saudaranya yang super nyirnyir berimbas pada panci, wajan, sodet dan tetek bengek peralatan dapur lainnya.

Aku hanya bisa menghela napas. Enggan mengganggu, ujung-ujungnya pasti aku kena semprot karena memang topik yang bikin ibu Ayuna Sari--mamaku--jengkel, tidak jauh-jauh dari anak nan cantik semata wayangnya yang masih juga belum menemukan penyumbang tulang rusuknya.
Hah! Akan susah memberi penjelasan pada Ibu Ayuni Sari. Pasalnya beliau sudah ngebet ingin nimang cucu.

"Rere ... tolong bawakan menantu buat mama, siapa aja dah!" seru mama dari arah dapur. 

Ya kali siapa aja! Emangnya menantu bisa didapat di kolong jembatan?

Aku berusaha menyumpal telinga agar suara itu tidak menembus gendang telingaku. Seolah belum puas karena tidak ada sahutan dariku, mama kini berjalan menghampiriku yang nyaris tertidur di sofa ruang tengah.

"Re! Kamu denger mama kan?" tanya mama menarik bantal yang menutupi wajahku.

"Duh, apaan sih mah, Re ngantuk," keluhku masih memejamkan mata.

"Re, mama minta menantu. Kapan kamu mengakhiri masa lajangmu? Jangan kerja-kerja mulu yang dipikirin." Mama terus menggoyang-goyangkan kakiku.

Astaga! Emak satu ini. Emang nyari menantu segampang nyari mi instan yang di setiap warung kelontong ada?

"Iyah,  ini lagi Re pikirin," kataku malas.

"Kamu tuh yah! Kalo mama ngomong nggak pernah didengerin, ingat umur Re. Mama juga udah tua,  mama nggak mau jadi ibu kamu terus. Mama tuh maunya kamu kasih mama cucu, biar bisa jadi nenek muda kaya tante-tantemu. Mama selalu jadi bahan nyir-nyiran kalo datang ke arisan keluarga. Mama malu Re, malu ... punya anak perawan satu tapi belum laku-laku."

Yaa Allah! Ibu Ayuna Sari benar-benar tidak bisa membiarkan diriku tenang sejenak. Aku terpaksa bangkit dari tidurku. Menegakkan punggung.

"Apa kamu nggak mau kayak teman-temanmu? Mereka udah pada nikah dan punya anak. Ayolah Re, mama yakin teman kantormu banyak yang laki-laki. Kenalin gitu ke mama satu."

Emang banyak, ada lah. Tapi mereka sudah pada punya istri. Kalaupun ada yang masih lajang mereka tidak ada dalam daftar kriteria laki-laki yang cocok bersanding denganku. Bukan,  bukan karena seleraku yang ketinggian. Tapi kebanyakan dari mereka itu laki-laki yang suka gonta-ganti pasangan layaknya ganti celana dalam tiap hari. Astaga! Aku nggak segila itu untuk mau menjatuhkan diri pada mereka.

"Gak ada Mah."

"Masa sih? Tampang kamu nggak jelek-jelek amat padahal, tapi masa belum ada laki-laki yang nyantol satu pun. Bahkan  anak teman-teman mama yang udah kenalan sama kamu belum berhasil membawamu ke pelaminan."

"Mah cari calon suami nggak segampang  cari kacang goreng di pasar. Kalo udah waktunya, Tuhan pasti kasih Re jodoh kok."

"Iya tapi kamunya juga harus usaha dong."

"Iya ini juga lagi usaha." Aku kembali meraih bantal dan hendak rebahan lagi.

"Baiklah, sepertinya mama punya satu teman lagi yang punya anak laki-laki deh."

Oh tidak! Jangan lagi. Aku sudah capek memberi kesan ilfil pada setiap laki-laki yang mama kenalkan. Bukannya apa, sumpah semua laki-laki yang mama sodorkan yang katanya kualitas terbaik, sama sekali tidak ada yang masuk dalam tipeku untuk jadi calon suami.  Terakhir, saat lagi ngedate dengan salah satu laki-laki yang disponsori oleh mama tentunya, ketika sedang asyik makan dan kurasa aku sudah menemukan feel yang mungkin saja aku bisa bilang oke, eh tiba-tiba datang seorang gadis, mengaku jadi pacarnya yang lagi hamil tiga bulan. 

Anjayyy! Gila,  hampir aja aku terjebak pada laki-laki brengsek bertampang keren itu.

"Nggak mah! Re nggak mau mama sodor-sodorin lagi ke teman-teman mama. Plis deh mah!"

"Mama jamin kali ini pasti kamu cocok. Kata Jeng Sri anaknya itu baru lulus S2 di luar negeri. Ganteng dan pinter pula.  Mama udah liat kok fotonya. Mau yah Re,  kamu kenalan sama dia. Yah Re ... Mama mohon. Sekali ini aja."

"Big No Mama!"

Ibu Ayuna Sari langsung pasang tampang cemberut. Aku benci kalau mama udah menampakkan muka paling seramnya itu. Agh! Aku mengerang jengkel. Tidak bisa menolak lagi. Oke,  once more, no again.

🍁🍁🍁

"Jadi, ntar malam lo mau dateng lagi di kencan yang diatur nyokap lo itu?" tanya Risa.

Kami bertiga, aku dan kedua sahabatku Risa dan Yuni, sedang makan siang di salah satu restoran yang terletak tidak jauh dari kantorku.

"Kayak gue bisa bantah titah ibu Ayuna Sari aja," jawabku setelah menyesap jus jeruk yang sedari tadi kuaduk-aduk.

"Dia nyokap lo Dol. Bisa-bisanya lo sebut nyokap lo Ibu Ayuna Sari." Risa menggeleng.

"Kali ini pasti cocok Re!" Yuni menyemangati.

"Lagian lo sih, padahal ada yang deket. Mana pinter, cakep dan kelihatan banget suka sama lo. Tapi lo ogah-ogahan gitu."

"Siapa?" Yuni menyambar cepat.

"Vino. Gimana? Emang sih belum mapan seperti yang lo ingin Re. Tapi itukan hanya soal waktu. Dia anggota keluarga Reksa grup kan?"

Aku bergidik. "Lo nyuruh gue pacaran sama bocah? Yang benar saja!" 

Punya dua sahabat otaknya kok rada kurang waras.

"Huss! Dia itu bukan bocah. Tepatnya dia bisa bikin lo punya bocah!" Risa tergelak.

Aku memutar bola mata. Menanggapi ucapan konyol Risa tidak akan ada habisnya.

"Masa sih? Kayaknya dia masih polos gitu deh." Yuni menimpali.

Ya ampun penting banget ya bahas  bocah itu saat sedang makan siang seperti ini?

"Ah nggak mungkin. Jangan ketipu sama tampang. Mana mungkin orang yang sekolah di luar negeri tidak berpengalaman main kuda-kudaan sama cewek."

Astaga! Mulut Risa benar-benar minta ditampol beneran.

"Udah sih Re terima aja. Jangan sok jual mahal. Biarpun lo udah pengalaman, kali aja ciumannya lebih mahir dari lo. Emang lo nggak pengin tuh rasain bibir merahnya? Ciumable banget." Tawa Risa makin lebar diikuti cekikikan Yuni.

Rasanya  ingin sekali jedotin kepala dua manusia di depanku ini ke meja.

"Udah deh. Kalian itu omongannya nyebelin. Gue cabut duluan ah. Masih ada kerjaan." Aku mendorong kursiku ke belakang. Meraih tasku sebelum beranjak.

"Makan lo yang bayar siapa nih Re?" seru Yuni.

"Lo lah!"

"Yaelah Re! Gajian masih lama."

Aku tak peduli lagi dan segera melebarkan langkah. Kalau bertahan bersama mereka, habis nanti aku jadi bahan bully-an. Mentang-mentang udah pada punya laki. Jadi seenaknya bikin anak perawan keki.

🍁🍁🍁

Aku sedang serius menatap layar laptopku saat mendengar suara ketukan pintu. Tak lama kemudian sebuah kepala menyembul lengkap dengan senyum yang sepertinya dibuat semanis mungkin. Vino. Aku mendesah.

Tanpa aku suruh, dia sudah duduk di kursi depan mejaku. Ya ampun! Kenapa aku jadi ingat obrolan tadi siang dengan duo bengal itu ya? Pacaran dengan Vino? Aku menggeleng. Memecahkan gelembung bayangan yang ada di atas kepalaku.

Sejenak aku mengernyit. Bukannya tadi pagi dia sudah menyerahkan laporan penjualan bulan ini. Jangan bilang dia akan merusak hariku. Tanpa sadar aku memijit pelan keningku yang mulai berdenyut.

"Ada apa?" tanyaku tanpa melepas pandangan dari layar laptop.

"Mbak sibuk?"

"Kelihatannya?"

"Kalo ntar malam sibuk nggak?"

Bagus. Moodku sudah berantakan sejak di rumah. Sekarang anak ini seperti tidak mau membuatku nyaman sedikit pun. Bohong kalau aku bilang ke mama tidak  ada laki-laki satu pun yang coba mendekatiku di kantor. Baiklah. Dari beberapa  yang mencoba mendekatiku di kantor ini, mungkin hanya Vino yang bersih. Maksudku, aku tidak memiliki rekam jejak yang buruk tentangnya.

Aku tidak bodoh. Gelagatnya yang mencoba menarik perhatianku sudah sangat bisa aku baca. Aku sudah sangat veteran dalam urusan remeh temeh asmara dan cinta-cintaan. Dan aku tidak mungkin mau menghadapi keisengan bocah ini yang mungkin sedang bosan dengan teman mainnya. Di sini aku sedang mencari laki-laki serius,  yang bisa segera mungkin kukenalkan sama mama sebagai calon suami.

Tapi Vino? Astaga! Dia bukan kriteriaku. Nyerempet pun tidak. Selain muka baby face-nya yang bikin aku harus rajin-rajin facial karena takut kalah saing dengannya, dia itu juga jauh lebih muda dariku. Perlu digarisbawahi. Umur jadi prioritas utamaku dalam memilih calon pendamping hidup. Pasanganku harus lebih tua dariku. Titik. Tidak ada tawar menawar soal ini. Para mantanku dulu usianya di atasku. Dan aku belum seputus asa itu untuk menerimanya sebagai kandidat calon menantu ibu Ayuna Sari.

"Iya saya tahu,  lalu?"  Sebenarnya aku sudah tahu arah obrolan anak ini.

"Mbak mau kan makan malam sama saya?"

Dan dilihatin orang-orang karena dikira tante girang membawa bocah ingusan. Maaf, terima kasih.

Aku patut mengacungkan jempol atas usahanya. Tapi sorry, aku tidak berminat.  Dan Ya ampun! Jalan berdua dengan dia? Tampangnya yang mirip oppa-oppa kegemaran para ABG itu sungguh membuatku merasa terintimidasi.

Gila aja! Wajahnya hampir tidak ada noda sedikitpun. Putih bersih licin seperti porselen. Kalau saja aku tidak tahu dia masih keturunan dari pemilik Reksa grup, aku curiga dia sudah melakukan perawatan untuk bisa dapat wajah sekinclong itu. Sayangnya Pak Reksa, pimpinan tertinggi kami, pemilik wajah tertampan di gedung ini, adalah paman dari si bocah ingusan itu. Mungkin Vino bisa dibilang Pak Reksa versi mudanya.

"Maaf, saya nggak bisa. Udah ada janji," tolakku menatapnya sekilas.

"Janji sama siapa mbak? Bukannya mbak belum punya pacar?"

Hohoho songong nih bocah. Belum tahu dia! Rasanya ingin kutempeleng saja kepalanya.

"Itu bukan urusan kamu."

"Mbak janjiannya jam berapa?"

"Maksudmu?"

"Gimana kalo setelah mbak janjian entah sama siapa itu,  kita jalan bareng mbak. Tenang, saya anter kok."

"Saya nggak bisa Vino." Kali ini aku menekan intonasi suaraku.

"Ini weekend mbak, biasanya itu..."

Mulai ngeselin nih. Apa bocah ini tidak mengenal arti penolakan?

"Kamu ngerti kata 'nggak' kan? Mending kamu keluar deh. Saya masih banyak kerjaan."

"Mbak...."

"Keluar!" usirku emosi seraya menunjuk pintu.

Aku kembali menekuri berkas-berkasku setelah Vino keluar. Mengatur napas karena tadi sempat emosi menghadapi anak tebal muka itu. Aku keterlaluan tidak ya? Biarpun dia ponakan boss besar di sini, tetap saja dia stafku. Bawahanku. Mungkin dia perlu diajari profesionalisme dalam bekerja.

🍁🍁🍁



Aku memasuki salah satu restoran seafood di kawasan Kemang. Tempatku berkencan buta dengan seorang anak teman mama. Aku berharap ini yang terakhir kalinya. Mendapati pilihan mama yang tidak pernah klik rasanya membosankan.

Aku memindai isi restoran saat baru membuka pintunya. Dan mataku jatuh pada sosok laki-laki yang sedang duduk memainkan ponselnya di meja no.12. Aku tidak salah itu adalah nomor meja reservasi yang mama kasih tau lewat telepon sebelum aku keluar dari kantor.

Bisa kulihat dengan jelas laki-laki itu. Dia mengenakan kemeja slim fit berwarna maroon. Pahatan dadanya tercetak sempurna. Ada jambang tipis di area rahangnya. Alisnya agak sedikit tebal dengan hidung yang bangir menambah ketampanan laki-laki itu. Satu kata yang bergema di hatiku ... 'keren'. Benar-benar cocok dengan kriteriaku. Aku taksir umurnya sekitar tiga puluhan.

Aku menyisir rambut dengan jemariku sebelum melangkah mendekatinya. Tunggu siapa ya namanya tadi? Robby! Ah iya! Mama bilang namanya Robby.

Aku berdehem pelan saat sudah sampai di depan mejanya. Memasang senyum secantik mungkin. Dia mendongak sekilas.

"Silahkan duduk," ucapnya datar.

Untuk beberapa saat aku bengong. Ini serius? Biasanya laki-laki yang berkenalan denganku akan menyambutku antusias. Berdiri, lalu mengulurkan tangannya. Sedang si Robby ini? Menatapku saja rasanya enggan.Terpaksa aku duduk bersebrangan dengannya.

"Rere kan?" tanyanya tanpa melihatku. Dia masih terlihat sibuk mengutak-atik ponselnya seolah aku tidak lebih menarik dengan benda persegi di tangannya itu. Sedikit membuatku kesal.

"Iya, dan kamu Robby?" tanyaku balik yang dibalas hanya dengan anggukan.

Tadi aku sempat kagum dengan orang di depanku ini. Tapi ternyata sambutan yang dia berikan tidak sesuai ekspetasiku. Sepertinya dia laki-laki yang tidak terlalu peduli pada sekitar
Sombong mungkin karena merasa punya tampang oke.

Ya Tuhan,  semoga pikiranku salah. Tapi hatiku mulai kebat kebit lagi, jenis laki-laki seperti apa yang disodorkan mama kali ini?

"Langsung aja yah." Aku masih dalam posisi menegakkan punggung saat laki-laki itu meletakkan ponselnya dan mulai bicara. "Begini, aku ke sini bukan karena mauku. Aku cuma tidak ingin membuat ibuku kecewa jadi aku turuti kemauannya untuk menemuimu. Sebenarnya aku punya janji lain."

What the hell? Dia pikir aku punya waktu buat hal konyol seperti ini jika bukan karena mama? Kenapa aku merasa tersinggung yah?

"Aku juga tidak mau bikin kamu kecewa. Karena aku jelas tidak mau dijodohkan. Apalagi dengan seorang wanita--"

"Tunggu dulu ...." Aku memotong ucapannya. "To the poin aja. Jadi maksud kamu apa?" Rasanya aku tidak sabar. 

Ini diluar dugaanku. Sangat mustahil kalau dia tidak tertarik dengan wanita sepertiku. Ehem, bukannya sombong nih ya, hampir tidak pernah ada laki-laki yang menolak pesonaku. Urusan jodoh mungkin aku masih kurang beruntung, tapi kalau tampang, aku bahkan tidak pernah gagal menggoda laki-laki manapun. Mereka akan meneteskan air liur jika melihat totalitasku sebagai wanita. Dan laki-laki di depanku? Belum apa-apa sudah seperti membentangkan bendera penolakan. Apa-apaan! Jelas itu menyentil sedikit harga diriku.

"Sorry, maksudku. Kamu cantik."

Ooh jelas. Siapa yang bisa menyangkal?

"Tapi aku tidak mungkin menyukaimu."

"Apa?"

"Kamu lihat orang yang duduk di meja sana?"

Mataku mengikuti arah telunjuk Robby. Seorang laki-laki bertampang blasteran tengah duduk di sana sedang mengaduk minumannya namun matanya mengarah kepada kami. Lagi-lagi hatiku bergumam, 'tampan'.  Dan harusnya salah satu dari mereka bisa aku dapatkan. Yeah.

"Iya?"

"Dia kekasihku, pasanganku."

Demi bulu mata anti petir milik ibu Ayuna Sari?!! Mataku sontak melotot. Dan tiba-tiba dadaku serasa telah kemasukan air berliter-liter banyaknya. Sangat sesak. Aku kesulitan untuk bernapas sekarang. Bagaimana mungkin???

Brakkk!!!

Laki-laki di depanku refleks memundurkan badannya saat tanpa diduga aku menggebrak meja. Rasanya ingin kukeluarkan sumpah sarapah. Astaga! Kenapa laki-laki sesempurna itu harus memiliki orientasi sex yang .... Ah! Rasanya aku tak rela.

"Ka_kamu kenapa?" tanya Robby takut-takut.

Aku mengatur napasku kembali. Penggebrakan meja yang aku lakukan tadi ternyata mengundang mata pengunjung lain. Sabar Re,  ini tempat umum.

"Sorry, aku hanya sedikit syok."

Kulihat Robby bernapas lega sembari memegangi dadanya.

"Jadi kamu mengertikan? Kenapa aku tidak bisa menerima perjodohan ini?" tanyanya dengan intonasi melembut, tidak seperti tadi yang terlihat angkuh. 

Terpaksa aku mengangguk. Mau bagaimana lagi? Nasibku sial banget sih.

"Thank you Re, kamu mau mengerti. Jadi sorry ya aku harus pergi sekarang."

Sekarang aku yang lemas. Aku hanya mengangguk saat Robby berdiri dan beranjak menghampiri laki-laki lain yang tak kalah macho darinya.

Aku meluruhkan bahuku. Rasanya dandananku yang habis-habisan pun tidak akan ada gunanya jika dihadapkan pada mereka berdua. Ya Tuhan,  kenapa harus laki-laki setampan mereka??? 

Makan malam ini akhirnya game over, bahkan sebelum aku sempat memesan apapun. Aku Renata Pramesti, wanita 29 tahun yang sudah matang dan siap sekali dinikahi, gagal untuk kesekian kalinya dalam urusan menemukan penyumbang tulang rusukku. Duhai, nama yang sudah tertulis di tangan sebagai jodohku, dimanakah kamu sekarang berada?

"Jadi mbak mau dijodohkan dengan laki-laki ... itu?"

Aku berjengit. Suara menyebalkan itu kenapa ada di sini? Dengan gerakan slow motion, aku menoleh ke samping kanan dan mendapati bocah itu tersenyum lebar. Sial dobel el.

"Mbak daripada jalan sama laki-laki begitu, mending jalan sama saya."

Kenapa setelah sekian kali penolakanku rasa percaya diri anak ini belum juga turun sih? Harus aku apakan lagi ini bocah? Dan rasanya aku tak perlu meladeninya di sini. Karena itu hanya bikin aku tambah emosi. Aku meraih tasku dan beranjak. Namun belum ada dua langkah lenganku dicekal.

"Mbak mau kemana? Mbak kan belum makan?"

"Nafsu makanku udah hilang."

Kulihat kilat jahil di matanya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?

"Kalo nafsu yang lain belum hilang dong."

Aku melotot. Apa ini yang Yuni sebut masih polos? Sungguh sangat tidak lucu. Aku menyentak tanganku hingga cekalan tangannya di lenganku terlepas. Lalu mendorong dadanya.

"Jangan bicara yang nggak-nggak atau kucekik lehermu," desisku jengkel. Lalu kembali berjalan meninggalkan restoran. Berani-beraninya anak ingusan ini menggodaku.

"Berhenti! Jangan mengikutiku." Aku kembali memutar badan saat kurasakan Vino terus mengikuti langkahku. Dia mengangkat kedua tangannya seraya mengangguk. Bagus. Dia menurut, itu lebih baik jika tidak ingin aku tendang dari divisiku.

Aku berjalan cepat keluar dari restoran. Tidak langsung menuju parkiran, aku malah memilih terus berjalan di sepanjang City Walk. Ternyata tempat ini banyak dihuni oleh berpasang-pasang manusia. Aku jadi terlihat mengenaskan diantara mereka.

Rasanya lelah kalau harus membahas perihal jodoh. Kepalaku berdenyut seketika. Apalagi kalau sudah mendengar omelan Ibu Ayuna Sari. Siapa sih yang tidak mau menikah? Itu impian semua perawan di dunia inikan? Kalau memang belum ketemu, masa iya aku harus memaksakan diri. Wajarkan jika aku banyak pertimbangan soal ini? Aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup.  Aku tidak mau salah atau bahkan terjerumus dalam hal memilih pasangan berbagi tempat tidur.

Dan bagiku, menjalani hari-hari seumur hidup dengan orang yang sama itu tak mudah. Jadi, aku benar-benar harus memilih orang yang tepat. Seorang laki-laki yang benar-benar akan tetap mencintaiku saat kerutan di kelopak mataku berlipat-lipat dan rambut kelamku berubah memutih ditelan usia. Laki-laki yang masih tetap bertahan di sisiku meskipun berbagai cobaan sesulit apapun menerpa.

Aku terduduk di sebuah kursi panjang  yang terletak agak jauh dari kebisingan para pasangan yang sedang saling bermesraan. Membasuh muka dengan kedua telapak tanganku tanpa mau menurunkannya kembali. Seolah pasrah dengan yang sudah terjadi. Biarlah Tuhan yang menuntunku. Aku cukupkan upayaku, semoga mama mau mengerti dan tidak memaksaku berkenalan dengan laki-laki pilihannya lagi.

Kurasakan sebuah tangan mendarat di atas kepalaku. Aku menurunkan kedua tanganku dari wajah dan melihat pemilik tangan besar itu. Vino. Dia masih mengikutiku rupanya.

Aku mungkin lupa, dia bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah biarpun sering kali aku tolak mentah-mentah bahkan kerap aku bentak dengan mulutku sebagai atasan yang dikenal galak.

Entah kenapa aku membiarkan saja tangan itu berada di sana. Tidak menolaknya seperti biasa. Pelan kurasakan tangan itu mengusap lembut. Hanya sebentar sebelum sang pemilik tangan berubah posisi menjadi duduk di sebelahku.

Dia mungkin menertawakan kekonyolanku. Aku terlihat menyedihkan bukan?

"Seandainya saja kamu mau membuka hati sedikit saja. Banyak yang ingin mendapatkanmu,  termasuk aku. Tidak hanya sekedar mendapatkan tapi benar-benar menyerahkan hati yang cuma satu." Vino bersuara. Dan dia mengganti kata 'saya'  dengan 'aku' yang mengesankan kami dekat.

Tapi anehnya, aku tidak ada keinginan untuk menyela. Hatiku akan terbuka lebar pada orang yang tepat, seandainya dia mau tahu.

"Aku mungkin bukan tipe yang kamu inginkan. Tapi keseriusanku juga tidak bisa diragukan. Kamu mungkin sadar kalo aku punya perhatian lebih karena aku memang menyukaimu. Lebih dari sekedar suka tepatnya. Aku belum pernah seserius ini sebelumnya. Tapi sama kamu, aku merasa ingin melindungi dan ingin selalu berada di sisi kamu. Apa ini terlalu berlebihan?"

Kali ini aku menoleh, menatap matanya sejenak. Tidak ada sinar jahil atau keisengan yang kulihat. Mata itu menunjukkan ketulusan.

"Rere, aku mencintai kamu lebih daripada yang kamu tahu. Jadi, mau kan kamu menikah denganku, menjalani semuanya bersamaku?"

Sotoy! Bocah ini melamarku? Yang benar saja! Bahkan dia menyebut namaku tanpa embel-embel 'mbak'. Berangsur-angsur kesadaranku kembali.

"Jangan ngaco kamu." Aku melengos. Berusaha tidak menanggapi serius ucapannya.

"Aku serius." Kali ini tatapannya menghujamku. "Aku tidak pernah bercanda soal perasaan."

"Kamu jangan gila deh. Aku nggak bisa--"

"Kenapa? Karena perbedaan usia kita? Apa yang salah? Jarak kita hanya terpaut empat tahun. Itu nggak berarti apa-apa buatku. Dan nggak mengurangi sedikit pun rasa cintaku sama kamu."

"Tapi buatku itu salah."

"Apa ada yang kurang dari aku selain usiaku yang lebih muda? Aku memang nggak bisa menjanjikan apapun sama kamu. Tapi aku akan berusaha menjadi seperti yang kamu mau sehingga kamu bisa melihatku sebagai laki-laki yang bertanggung jawab."

Ya Tuhan! Apalagi yang harus aku katakan? Haruskah dia yang menjadi jodohku? Aku memang putus asa sekarang. Tapi kenapa harus bocah ini? Sepertinya aku harus meralat sebutanku pada Vino.  Bocah tidak mungkin bisa mengucapkan hal seperti itu.

Kami terdiam cukup lama. Aku tidak memungkiri. Kata-katanya tadi berhasil mengusik sesuatu yang ada dalam hatiku.

"Re,"

Vino meraih tanganku memaksaku menatapnya. Saat itulah pandangan kami bertemu. Aku mencoba bertahan,  hendak melihat berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk berpaling. Bodoh, tentu saja. Dan dari jarak sedekat ini kenapa dia jadi terlihat--mungkin mataku perlu diperiksa nanti--, sangat manis?

Tatapannya dalam. Dan ini, kenapa aku merasa deg-degan? Perutku mendadak mulas. Jantungku berdetak lebih cepat daripada seharusnya. Udara yang membungkus kami terasa berbeda. Perbedaan yang tidak bisa kujabarkan dengan kata-kata. Ini konyol. Mana mungkin aku berubah jadi empati seperti ini padanya? Bahkan saat wajahnya kian mendekat, aku bergeming.

Pelan tapi pasti, dapat aku rasakan tangannya terulur menggapai leherku. Usapan lembutnya di tengkukku membuat mataku terpejam.

"Plisssh,  kasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku," lirihnya. Dan suaranya itu seolah menyihirku.

Aku berharap ini bukan kesalahan. Meskipun otakku menolak mati-matian, hatiku berkata lain. Aku mengangguk sebelum kurasakan bibirnya berlabuh di bibirku. Dan aku baru saja menyadari bahwa ucapan Risa itu benar adanya. Sial.

END 


No comments:

Post a Comment