Hari ini aku merasakan terik matahari yang begitu sangat kuat. Panasnya seolah menembus ke ubun-ubunku.
Ku tengok pergelangan tangan kiriku. Pukul setengah dua siang. Luar biasa panas siang ini, tenggorokanku terasa kering, ada sesuatu yang mendorongku ingin meminum air segar. Tapi tak ada satupun penjual yang biasa menjajakan minuman dingin lewat. Hanya ada beberapa orang yang sama denganku, menunggu bus. Dan merekapun nampaknya kepanasan juga.
"Kemana sih busnya gak datang-datang...aku pengin segera sampe rumah. " gumamku kesal.
Beberapa kali aku mengusap peluh yang mengalir dipelipisku.
Satu persatu orang yang menunggu bus menaiki bus mereka. Hanya tinggal aku saja yang belum, bus no 12 yang biasa aku naiki itu tak ada nampak sama sekali. Aku mulai kelelahan, akhirnya aku pilih duduk saja dibangku halte.
Terlintas dalam pikiranku untuk menelpon Ramon, agar dia menjemput ku. Tapi urung, males banget tadi pagi aku sempat berantem.
Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari ulang tahun ku dan lagi lagi dia gak ingat. Aku harus selalu menerima ucapan selamat yang pertama dari orang lain. Dan saat aku bilang yang ngucapin pertama kali adalah Yudha dia marah. Apa-apaan....
Gak ada kue ulang tahun, Gak ada kado ultah. Boro-boro, terhitung udah tahun ketiga Ramon lupa dengan hari lahirku.
Sedang aku??? Tak pernah melewatkan sedetikpun momen bahagianya. Gak adil!
Suara ponselku bergetar. Aku hampir girang sebelum tau kalo ternyata yang meneleponku adalah Yudha. Hmm bukan Ramon.
"Yaa haloo yud.. " sapaku.
" Hai Vi, kamu dimana?" tanyanya di sebrang.
"Di halte, kenapa Yudh?"
" Masih di halte? Bus kamu belum datang?"
"Belum, mana panas banget."
"Ramon gak dateng jemput? "
"Enggak."
"Kamu mau aku jemput?"
"Terima kasih Yud, gak usah."
"Oh gitu okeh."
Telpon pun usai. Sebenernya aku mau dijemput Yudha. Tapi aku tak mau menambah masalah dengan Ramon.
Dari kejauhan aku lihat bus nomor 12 mendekat. Serasa mendapat angin segar begitu melihat bus berwarna abu itu akhirnya muncul juga.
Aku berdiri segera menyambut busku. Bus itu berjalan pelan saat jarak halte semakin dekat.
Kulihat banyak penumpang didalamnya bahkan udah banyak yang berdiri. Oh sepertinya aku harus berjuang lagi.
Aku membiarkan penumpang yang akan turun Lebih dulu keluar bus. Satu persatu dari pintu depan dan belakang penumpang keluar.
Aneh, ko nampaknya semua penumpang turun. Hampir gak ada yang tersisa satupun. Yang lebih membuatku bingung mereka bukannya jalan meninggalkan halte bus malah pada ngumpul di halte.
Tanpa berpikir panjang lagi aku segera naik. Tapi tiba-tiba... Seseorang muncul dari pintu depan bus. Bersender pada dinding pintu. Dengan senyum ciri khasnya. Ramon...?
Sedang apa dia disitu? Aku harap dia gak melakukan sesuatu yang aneh.
"Hai sayang... "sapanya. Agak gak aku tanggapin. Ingin rasanya aku menariknya karna sudah menghalangiku menaiki bus.
Selamat ulang tahun... Selamat ulang tahun...
Serta merta aku mendengar bunyi koor dari belakangku. Sontak aku menoleh.
Hah? Rasanya tak percaya kalo orang-
orang yang tadi turun dari buslah yang bernyanyi koor itu. Nampak Yudha berdiri di tengah membawa kue ulang tahun.
Aku melihat kembali ke arah Ramon, dia tersenyum lantas turun dari bus.
Begitu koor itu berhenti.
Begitu koor itu berhenti.
"Ramon Yudha apa kalian yang merencanakan ini?"tanyaku pada mereka.
"Bukan aku, hanya Ramon." jawab Yudha.
"Di tengah hari yang panas ini? Well kamu sukses membuatku terkejut Ramon.. " ujarku.
"Ayolah sayang.. Jangan marah-marah trus. Kamu tiup lilinnya yaa..., "pintanya menuntunku ke halte yang beratap.
Lilin dengan angka 27 berdiri diatas kue berbentuk hati. Jujur aku ingin kejutan lebih diangka yang sudah kuanggap matang dari seorang wanita.
"Hei kenapa diam... Ayo tiup dong..." kata Ramon lagi.
Oke, aku turuti maunya. Sorak sorai berderai.
"Selamat ulang tahun ya sayaang... " ucap Ramon. Kali ini tak kuliat dia membawa bunga. Terakhir kali dia memberi ku bunga, aku lempar kemukanya. Hihi
Kulihat dia merogoh saku celananya. Sebuah kotak beludru berwarna merah berada di tanganya sekarang. Aku hampir tak percaya.
"Sayang, maaf terlalu banyak kekurangan yang aku miliki hingga sering membuatmu marah. Aku memang tak sempurna tapi aku ingin ketidaksempurnaanku bisa kau lengkapi. Will you marry me???" ucapnya yang sanggup membuatku ternganga.
Lamaran ditengah hari bolong. Kepikiranpun gak pernah.
Bayanganku aku akan dilamar Ramon di candle light dinner yang romantis. Bukan di halte bus dipinggir jalan dan diliat banyak lalu lalang orang. Oh My God. Tapi cukup excited sih.
Aku menatap Ramon, ada sedikit keharuan yang tiba-tiba menyeruak yang mampu mendesak airmataku untuk mengalir perlahan.

" Yes, I will... " ucapku perlahan. Aku pun menghambur kepelukannya dan tepuk tangan dari orang-orang yang ternyata teman-teman Ramon dan Yudha itupun bersautan.
END


No comments:
Post a Comment