By. Yuli Fajar Riyadi
Aku dan segerombolan rekan kerjaku yang lain satu persatu memasuki bus jemputan.
Enaknya kerja dikantor ini tuh ada bus jemputannya berbaur dengan divisi lain, jadi aku tidak perlu takut terlambat karena tidak dapat kendaraan umum. Yah kecuali memang aku bangun kesiangan, otomatis ketinggalan bus jemputan.
Hari sabtu siang jarang yang lembur, jadi sudah dipastikan bus akan penuh. Perusahaanku menerapkan enam hari kerja. Sabtu setengah hari dan libur cuma hari minggu saja.
"Ini hari sabtukan, uuh aku udah ga sabar pengin lihat dia lagi."
Aku mengernyit mendengar ocehan Seli, teman sekantorku.
"Sama Sel, aku juga. Secara ini jadwal dia naik bus kita kan?" Farah menimpali. Mereka sedang membicarakan siapa sih?
"Aku udah kangen sama suara merdu dan tampangnya yang cute."
"Sama."
Lalu mereka berhaha-hihi.
"Kalian lagi ngomongin siapa sih?" tanyaku ikut nimbrung.
"Ah masa kamu gak tau. Ituloh penyanyi kita," jawaban Seli malah membuatku bingung.
"Pengamen, pengamen ganteng," sambung Farah tertawa.
Pengamen ganteng? Aku menutup mulutku tak percaya. Jadi dari tadi mereka sedang membahas pengamen dadakan yang muncul tiap hari sabtu di bus jemputan?
Hmm, aku kirain apa.
"Terus kenapa?" tanyaku.
"Saingan kita banyak, tuh lihat. Hampir-hampir semua cewek disini menunggunya."
Tidak aku pungkiri. Pengamen yang satu itu memang memesona siapa saja.
Aku duduk disamping Seli, Farah duduk di depan kursi kami.
Bus merambat perlahan begitu semua penumpang sudah naik. Aku menengok ke kananku, ternyata anak divisi sebelah. Dan mereka juga sama sedang membahas tema pengamen ganteng.
Aku menghembuskam nafas lelah. Sedikit menggigit bibir bawahku.
Jalan Markisa. Bus jemputan ini berhenti sejenak karena ada pengamen yang minta untuk ikut naik. Hal seperti ini sudah biasa terjadi. Dan supir bus tidak pernah menolak jika tidak mau busnya hancur karena ulah pengamen jalanan.
"Terima kasih Pak," ucap pengamen yang baru saja masuk sesaat setelah kakinya berhasil menapaki lantai bus.
Aku tau setelahnya akan terjadi apa. Kegaduhan jelas. Pasalnya pengamen inilah yang selalu ditunggu-tunggu penghuni bus ini.
"Mas saya request lagu dong, punya Naff. Akhirnya ku menemukanmu!" seru seorang cewe yang duduk di barisan nomor tiga. Sontak sorakan panjang yang tertuju padanya menggema.
Huuuuuuuuuuh....
"Eh, pada sirik aja."
Aku hanya menggeleng kepala melihat tingkah konyolnya. Jika dia datang, memang seperti ini suasana dalam bus. Mendadak seru.
Melek mata semua. Siapa yang tidak tertarik dengan sosok didepan sana yang tengah menenteng gitar itu?
Hampir seluruh kaum hawa penghuni bus ini selalu menanti kehadirannya.
Dia memang bukan pengamen biasa. Selain penampilannya yang bersih dan gaul, lelaki itu memiliki tampang yang charmingnya kebangetan.
Dengan suaranya yang merdu, hati wanita mana yang tidak meleleh saat didendangkan lagu-lagu indah nan romantis dari dawai gitarnya.
Katakan aku terlalu berlebihan. Tapi aku bicara kenyataan. Bahkan cewek yang berada disampingku sekarang, yang sedari tadi matanya melotot lurus ke depan, sangat berharap bisa jadi pacarnya. Oh My God!
"Aduh Ra,,, kalo ada dia..., rasanya aku tak mau turun dari bus ini sebelum doi gandeng tanganku."
Tuhkan dia mulai halu. Seli mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Ngayal terus aja Sel," cibirku tidak peduli.
"Mas, nyanyi lagu bagindas aja, Suka sama kamu! Mewakili perasaan gue tuh sama masnya," celetuk seseorang lagi. Kali ini kudapati pemilik suara itu yang duduk dibarisan belakang.
"Yaelah lu,,,, blak-blakan amat lu!" sahut yang lain.
"Lah emang kenapa? Masalah gitu? Namanya juga request."
"Kaya yang mau bayar aja."
"Eh bakal gue bayar tau! Bayar pake makan malam candle light dinner. Mau ya Mas? "
Huuuuuuuuuuh.....
Aku tersenyum geli melihat tingkah lucu mereka. Ya ampun..., Kalau terusan begini kapan dia nyanyinya.
Aku alihkan pandanganku pada lelaki bertopi putih itu. Pesonanya memang sangat kuat. Dipipi sebelah kanannya ada sebuah cerukan yang menambah kemanisannya jika dia tersenyum.
Alis tebal yang membingkai kedua matanya yang tajam. Lekuk antara dahi dan hidungnya yang sangat tegas. Bibir penuh berbelah.
Astaga! Apa yang aku pikirkan? Cepat-cepat aku menutup mata. Kenapa aku malah menikmati kesempurnaan mahluk itu. Mahluk yang senantiasa membuat dadaku berdegup kencang. Mahluk yang sangat diharapkan para wanita penghuni bus ini.
Kulihat dia mulai memetik gitarnya. Apa yang akan dia nyanyikan? Mungkin sebuah lagu yang akan membuat hati semua yang ada disini meleleh.
If I could be honest, here in this moment
( seandainya aku boleh jujur, pada saat ini)
I've been so nervous to stand here with you
( Aku gugup sekali berdiri disini bersamamu)
Dia mulai bernyanyi didepan sana. Suaranya yang merdu berhasil menghipnotis kegaduhan yang terjadi. Aku mulai memasang telingaku baik-baik. Menyamankan posisinya. Agar tak ada satu lirik pun yang luput dari pendengaranku.
Tomorrow I'll open in my eyes
( Besok aku akan membuka mataku)
And I will whisper to my wife
( Dan aku akan berbisik pada istriku)
Aku membuka mata seketika.
I belong with you
( Aku milikmu)
Mendengar dia menyanyikan lagu romantis ini, membuat dadaku kembali berdebar. Hening. Seakan semua terbuai dengan alunannya.
I belong with you
(Aku milikmu)
Dia mengakhiri lagunya dan tersenyum padaku. Tunggu, aku meyakinkan diriku bahwa tidak ada orang lain yang dia ajak senyum. Atau memang senyuman itu tertuju pada semua yang ada disini? Aku terlalu GR kalo begitu.
Tepukan menggema seketika.
"Ya ampun.... Aku mau banget jadi istrinya... " Seli kembali mengigau.
Kulihat lelaki berjaket kulit itu memutar gitarnya kebelakang punggung. Lalu dengan pelan ia melangkah maju ke tengah.
Aku hampir kehilangan nafas sesaat. Wajahku memanas entah mengapa. Tatapan tajam itu aku yakini sedang menatapku.
Aku menunduk, mengeratkan genggaman tanganku pada tali tas yang ada dipangkuanku.
"Ra, dia mendekat. Astaga,,, aku jantungan...," Sempat aku mendengar Seli berbisik tertahan. Sebelum akhirnya aku dapati suara bass yang merdu itu mengudara tepat dihadapanku.
"I can hardly wait, have you be my wife."
Grrrrr.....
Wajah merahku sudah sulit aku sembunyikan lagi. Andreas menatapku dalam saat ini. Membuat berpasang-pasang mata menatapku horor tak percaya.
"A-ara... " bahkan Seli kedengaran sulit menyebutkan namaku.
Aku harus bagaimana Tuhan? Semua akan tahu. Andreas sekarang benar-benar seperti sedang mengerjaiku.
"Jelaskan padaku Ara?" Seli menuntut jawaban. Begitu juga berpuluh-puluh pasang mata lainnya.
"Aku...,"
"Mohon maaf semuanya. Kalo kehadiran saya mengganggu. Perkenalkan nama saya Andreas. Saya adalah calon suami Deara atau Ara. InsyaAllah pekan depan kami akan menikah, dan semua yang ada disini kami undang. Kami harap kalian berkenan hadir."
Grrrrrr..... Ribut lagi kan? Aku menutup mataku ngeri.
Andreas meraih pergelangan tanganku. Bus akan segera berhenti. Dan aku akan turun disini bersamanya.
Aku bangkit dari dudukku. Sempat aku saksikan bermacam-macam ekspresi disini. Ada yang kesal, ada yang kecewa dan sedih. Aku tak sanggup lagi berada disini.
"Maaf Seli, nanti akan aku jelaskan," kataku sebelum akhirnya menyetop bus ini.
"Araaaaaaa kau menyebalkaaaan!!!!"
Aku hanya bisa mengacungkan jariku membentuk huruf V sebelum akhirnya turun dari bus.
πΈπΈπΈ
Semoga saja mereka tidak menganggapku jahat. Ini bermula dari ide gila Andreas. Yang memilih menjemputku setiap sabtu siang dengan cara seperti ini. Berpura-pura jadi pengamen jalanan. Katanya itu menantang adrenalin, mempertunjukan nyanyiannya di depan banyak orang.
Dia sih tidak mengira akan banyak yang suka seperti sekarang. Gara-gara itu aku sering menuduhnya suka terbar pesona.
Pasalnya tidak hanya sekali dua kali teman-teman sekantorku membicarakan Andreas. Dan semua aku tanggapi hanya dengan bungkaman. Kalaupun aku harus berkomentar, ya seperlunya saja.
Aku dan Andreas sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Dan tahun ini adalah tahun yang selalu kami tunggu-tunggu. Tahun pernikahan kami. Maaf jika akhirnya aku membuat kecewa teman-temanku. Selama ini tidak pernah ada yang tahu kalo Andreas itu pacarku. Maksudku mereka tahu, tapi mereka tidak tahu tampang Andreas seperti apa sebelumnya.
"Puas sekarang kau?" tanyaku memukul bahu Andreas. Dia malah terkekeh. Tanpa peduli rajukanku ia meletakan gitarnya ke bagasi mobilnya yang terparkir di area parkir tak jauh dari sini.
"Mereka pasti akan marah padaku," kataku lagi begitu Andreas memasuki mobil dan duduk dikemudinya, aku sudah sedari tadi duduk disana.
"Aku cuma mau nunjukin ke kamu kalo aku bukan tebar pesona. Nyatanya aku punya calon istri yang menggemaskan seperti ini."
Aku menatapnya cemberut. Dan sedetik kemudian, pesan-pesan dari grup WA bermunculan. Aku menunjukan layar ponselku ke arah Deas..
"Lihat!"
Aku dihujani bermacam-macam cacian disana.
'Dasar Penipu.'
'katanya gak suka tapi dibelakang nikung juga.'
'bagus banget ya pranknya.'
'punya tampang cute lagi gak yang bisa dijadiin pengamen, minta satu dong.'
'gue ngalah deh dijadiin yang kedua.'
'Oh jadi itu Andreas lu.'
'pantes gak pernah mau ngenalin, takut digebet kita rupany.'
Aku mengusap dahiku, pusing. Celotehan mereka mulai ngawur.
"Ya udah kamu matiin aja kalo itu mengganggu."
"Terus besok senin gimana? Apa yang harus aku katakan pada mereka?"
"Besok senin, kamu cuma perlu mengantarkan undangan kan? Habis itu hengkang dari kantor itu."
Aku memang sudah mengajukan resign. Dan sudah disetujui oleh managerku dan HRD juga. Hari ini memang hari terakhirku bekerja. Senin berniat pamitan dengan teman-teman sekaligus mengantar undangan pernikahan.
"Semoga mereka memaafkanku," desahku tak bersemangat.
"Makanya Ara punya pacar itu jangan disembunyiin. Mana pacarnya ganteng lagi. Ditaksir orang lain baru taukan?"
Ucapan Andreas malah membuatku semakin kesal. Kupukul keras-keras bahunya. Deas tergelak. Kalau dia sudah mulai narsis, ingin sekali rasanya aku mencabik-cabik tampang dewa yunaninya itu.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya kasar melalui mulut. Lupakan urusan hari senin. Setelah ini aku dan Deas_panggilan Andreas_ sudah akan sangat sibuk dengan segala tetek bengek pernikahan yang masih kurang sekitar 10 persen lagi.
Doakan semoga semua berjalan lancar dipernikahanku dengan pengamen ganteng ini. π
E N D
PS. Intermezzo dengan one shoot story gaeess... Lagi gabut soalnya.